Pengumpan RSS

Anakku Fatima

Posted on

Tanggal 4 Juni 2011 adalah tanggal HPL kehamilan saya yang ketiga. Maunya lahiran tanggal 1 Juni 2011 , pake hypnobirthing katanya bisa. Tapi memang kehendak Gusti Allah saya melahirkan tanggal 7 Juni 2011.
Hypnobirthing yang saya pelajari dari kursus di RS Happyland berhasil pada proses kelahirannya, normal dan menyenangkan.
Sejak awal kehamilan saya rutin cek kehamilan di dr Enny, SpOG di rs JIH. Ini rekomendasi 3 orang tetangga saya yang pernah periksa kehamilan ke dr Enny, SpOG. dr. Enny ini cerewet dan sangat menjaga ibu hamil dengan memberikan saya list makanan yang tidak boleh dan bahkan berias dan merawat diri ibu hamil pun sekedarnya, bagi beliau jangan ada zat-zat yang tidak alami masuk ke janin melalui makanan maupun kulit sang ibu. Walhasil selama hamil saya tidak bodyscrub, tidak masker muka maupun rambut, tidak teh apalagi kopi, dan sangat selektif dalam memilih makanan.
Saya pilih JIH karena rumah sakitnya terlihat nyaman, bagus, bersih, tidak bau obat-obatan, dan harum persis sama dengan pewangi lantai dirumah. Mmm pokoknya sip. Dan yang lebih penting yang bayarin kantor bapaknya jabang bayi 100% full. Asyik deh.
Tanggal 6 Juni jam 9 malam saya mendapati bercak darah. Saat itu juga kami segera ke JIH. Berhubung ini kehamilan yang ke 3 yang tidak dapat diprediksi kecepatan kelahirannya, maka saya disuruh nginep.
Berhubung di kelas 2 banyak yang lahiran dengan sesar, dan kelas 1 tempatnya sempit, maka pengurus ruang menyarankan saya untuk di kelas 3 saja, kosong dan luas, biar saya bebas berjalan2 tuk memicu kelahiran sang bayi. Dan tempat kelas 3 pintu nya saling berhadapan dengan ruang bersalin.
Tanggal 7 Juni pagi seperti biasanya visit dokter, dokter tetap menyarankan saya tidak pulang. Dan saya pun banyak berjalan2, sampe buosennnnnn dan capek merasakan tegang terus tiap 8 menit-10 menit sekali. sejak jam 10 malam sampe akhirnya saya memilih untuk tiduran jam 10 siang.
Nah pada saat saya pasrah dengan tegang-tegangnya urat-urat sekitar paha dan punggung akhirnya datang juga. jam 11 saya merasa ingin ngeden, tapi bukan beol. Saya minta suami tercinta tuk manggil suster.
Suster dateng saya malah disuruh nggak boleh ngeden. Pokoknya rame…
Air ketuban dah mulai mengalir, saya langsung dilarikan ke ruang bersalin, bersama suami yang selalu mendampingiku.
Dokter Enny pun ikut masuk ruang bersalin, setelah beliau hadir baru saya diposisikan untuk melahirkan. Tak lama sang bayi perempuan pun lahir dengan selamat sehat sentosa menghantarkan dengan ini kemerdekanannya. (ups! inimah pembukaan UUD 45 donk).
Dan dengan keinginan luhur maka anak ini pun dinamakan Fatima.
Tapi setelah lahir sang bayi tidak langsung ditaruh di perut ibu, saya kan ingin kaki baby yang mengurut dengan alami rahim saya. Malah nunggu, berhubung saya cerewet maka Fatima pun diletakkan diperut dan mulutnya langsung ditetek. Hisapan Fa sangat baik. Tapi saat itu hanya berlangsung sebentar. Fa pun dibawa masuk keruang bayi dengan alasan dokter anak membutuhkan sampel darahnya, untuk itu katanya bayi harus dihangatkan selama 2 jam di ruang bayi hingga urat nya terlihat dan mudah mengambil sampel darahnya. Dan sang ibu selama itu menunggu diruang bersalin hingga pulih. Sendirian. Padahal aku sangat laperrrr. Fa pun menangis terus dengan kencangnya. Hiks.

Hilang sudah harapan ku pada IMD. Sebagai pelipur lara aku mengingat kembali IMD anak ke 2 sangat sukses, melihat Yasmin begitu lahir tahu dimana makanannya, dari perut dia merangkak dan memilih sendiri tetek sebelah mana yang dia pilih. Alhamdulillah.

Setelah 2 jam saya kembali ke kamar, pengennya pindah ke kamar 1 or VIP sekalian, tapi aku nikmatin aja kamar yang luas dan dinikmati sendiri. Tak lama kemudian Fa pun masuk dan tidur sebelahan dengan ku. Kuganti popoknya. Ku bedong.. mm dinikmati begitu nikmat Karunia Allah. Keesokan harinya pagi-pagi Fa dimandikan suster. Dan aku sudah mandi lebih dulu. Siangnya kami pun pulang kerumah dijemput mobil butut kaluaran baheula. Alhamdulillah. Dan biaya selama 3  hari ibu dan bayi 3 jutaan. Yang bayarin kan kantor. Tidak masalah. Amin

-Bunda Wulan-

Kembalikan tanganku ayah…

Posted on

Kisah nyata
By Dedy Susanto – June 17, 2011

…Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan mobil1. tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sangat serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua telapak tangannya harus diamputasi” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.