Catatan mengenai Mencari Pengetahuan/Ilmu (a.ka Belajar) November 5, 2009
Posted by anammasrur in character building.add a comment
Dalam diskursus Al Quran, ada kelompok orang yang berpengetahuan yang disebut Ulil Albab. Secara umum definisi yang dikenali masyarakat sekarang adalah mereka yang menyatukan IMTAQ (Keimanan dan ketaqwaan) dan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi.
Seorang kawan mengingatkan saya bahwa dalam mencari pengetahuan, tidak mungkin tidak, ada spiritual event yang akan ditemui. Dia mencontohkan ketika seseorang tekun mengkaji Albert Einstein, dapat bertemu dengan Einstein dalam keadaan sadar dan seolah-olah berguru langsung dengan Einstein.
Pengetahuan dapat dicari dengan ketekunan belajar disertai tindakan-tindakan yang bisa disebut asketik atau tirakat. Ketika mahasiswa saya melihat banyak orang melupakan makan dan minum untuk belajar, ada orang yang begadang untuk belajar, ada orang menyendiri untuk belajar. Ini tindakan normal dan “fitrawi” untuk mendapatkan pengetahuan dari apa yang dipelajari. Padahal dari sinilah kita dapat menorehkan metode belajar yang intens.
Belajar haruslah disertai tindakan-tindakan asketik (tirakat) yang terdiri dari 2 hal
1) Melalaikan kenikmatan duniawi (zuhud)
Zuhud adalah sebuah konsentrasi tindakan untuk sejenak atau terus menerus melalaikan kenikmatan duniawi dan melepaskannya dari tindakan sehari-hari. Secara umum ada 3 tindakan yang dilakukan dalam upaya melalaikan kenikmatan duniawi ini:
1.1 Bersendiri atau uzlah. Ini menghilangkan kenikmatan bersosialita, kenikmatan pergaulan, cengkrama, canda, tukar pikiran, dan juga berhubungan/berkontak kepada dunia.
1.2 Menahan lapar dan dahaga atau puasa atau shiyam. Segala kenikmatan dari makanan/minuman (termasuk juga seks) juga ditahankan agar kita membersihkan diri dari anasir-anasir dan fokus pada apa yang dipelajari.
1.3 Konsentrasi penuh atau meditasi atau zikir/wird. Pada bentuk-bentuk tertentu dengan seperti meditasi dan tekun fokus belajar. Secara umum adalah kita diam saja untuk konsentrasi pada apa yang dipelajari
2) Berkonsentrasi dalam latihan terus menerus (riyadhoh). Pengetahuan juga membutuhkan latihan-latihan, uji coba soal, case study, percobaan, yang dilakukan terus menerus dengan tekun. Tekun adalah keharusan dalam latihan. Pantang menyerah, kesuksesan sementara sebagai istirahat, maju terus, dan lain-lain adalah buah dari himmah, atau tekad, yang harus diejawantahkan dalam latihan.
Spiritual event adalah semacam karomah atau kemuliaan bagi penempuh pencari ilmu. Termasuk kemudahan-kemudahan yang didapatkan dalam proses ini.
Wallahul musta’an
Menjadi Habib III November 2, 2009
Posted by anammasrur in "entergizer".add a comment
Lebaran… ritual untuk mudik dan silaturahmi ke yang tua-tua. Pada suatu kesempatan saya mendapatkan cerita ini.
1. Ayahmu dulu sering hilang dari sekolah. Dan pulang ke rumah terlambat. Kalau ditanya kemana saja dia akan cerita bahwa dia diajak pergi “Laki-laki gagah dan rupawan (ganteng), diajak jalan-jalan, makan-makan, dan bersenang-senang”. Itulah sebabnya ayahmu dipindah sekolah sampai tiga kali.
2. Tetangga dulu kalau ada tukang roti lewat selalu memanggil dan aku diminta mengambil dahulu, mereka yang bayarin. Lalu baru mereka mengambil roti dari tempat aku ngambil dan membelinya. Tentu aku dapat gratis. Bahkan kadang tukang roti pagi-pagi datang ke rumah dan ngasih roti gratis. Tadinya aku tidak mengerti, setelah besar baru aku mengerti.
3. Ayahmu dulu suka makan rambutan. Sekali minta ke nenek, tidak ada yang bisa bilang tidak. Nenek tidak akan pernah bilang tidak pula. Padahal dalam ekonomi yang sulit itu, tetap saja ayahmu akan membeli bersih semua rambutan yang dijual. Tetap saja nenek membeli tuntas. Kemudian ayahmu akan memakan sebiji atau dua biji… lah sisanya… ayahmu bilang; ’sudah bagi-bagikan ke tetangga semua’
4. Kakek dulu tidak mau dipanggil sayyid (tuan). Tapi diam saja kalau dipanggil habib (pecinta). Katanya kita ini bukan bangsa tuan-tuan, tapi kita ini bangsa pecinta dan perindu. Kita diturunkan ke dunia dengan segala jalannya adalah untuk merindu dan mencinta.
Kesimpulan:
1. Bertemanlah dengan malaikat, mereka senang berteman dengan kita [jagalah wudhu pakailah wangi-wangi]
2. Sebarkanlah berkah dengan sengaja atau tidak, kepada siapa saja. Jadi pribadi yang ‘mbarokahi’ dan senang bertabarukan
3. Kasihilah sesama dan berikanlah walau mungkin kita kekurangan
4. Kita ini sekedar pecinta dan perindu… kita tidak memiliki tempat di dunia ini, tempat kita adalah tempat asal kita dan tempat kembali kita.
Wallahul musta’an


