jump to navigation

Menjadi Habib III November 2, 2009

Posted by anammasrur in "entergizer".
add a comment

Lebaran… ritual untuk mudik dan silaturahmi ke yang tua-tua. Pada suatu kesempatan saya mendapatkan cerita ini.

1. Ayahmu dulu sering hilang dari sekolah. Dan pulang ke rumah terlambat. Kalau ditanya kemana saja dia akan cerita bahwa dia diajak pergi “Laki-laki gagah dan rupawan (ganteng), diajak jalan-jalan, makan-makan, dan bersenang-senang”. Itulah sebabnya ayahmu dipindah sekolah sampai tiga kali.

2. Tetangga dulu kalau ada tukang roti lewat selalu memanggil dan aku diminta mengambil dahulu, mereka yang bayarin. Lalu baru mereka mengambil roti dari tempat aku ngambil dan membelinya. Tentu aku dapat gratis. Bahkan kadang tukang roti pagi-pagi datang ke rumah dan ngasih roti gratis. Tadinya aku tidak mengerti, setelah besar baru aku mengerti.

3. Ayahmu dulu suka makan rambutan. Sekali minta ke nenek, tidak ada yang bisa bilang tidak. Nenek tidak akan pernah bilang tidak pula. Padahal dalam ekonomi yang sulit itu, tetap saja ayahmu akan membeli bersih semua rambutan yang dijual. Tetap saja nenek membeli tuntas. Kemudian ayahmu akan memakan sebiji atau dua biji… lah sisanya… ayahmu bilang; ’sudah bagi-bagikan ke tetangga semua’

4. Kakek dulu tidak mau dipanggil sayyid (tuan). Tapi diam saja kalau dipanggil habib (pecinta). Katanya kita ini bukan bangsa tuan-tuan, tapi kita ini bangsa pecinta dan perindu. Kita diturunkan ke dunia dengan segala jalannya adalah untuk merindu dan mencinta.

Kesimpulan:
1. Bertemanlah dengan malaikat, mereka senang berteman dengan kita [jagalah wudhu pakailah wangi-wangi]
2. Sebarkanlah berkah dengan sengaja atau tidak, kepada siapa saja. Jadi pribadi yang ‘mbarokahi’ dan senang bertabarukan
3. Kasihilah sesama dan berikanlah walau mungkin kita kekurangan
4. Kita ini sekedar pecinta dan perindu… kita tidak memiliki tempat di dunia ini, tempat kita adalah tempat asal kita dan tempat kembali kita.

Wallahul musta’an

Mengapa kamu menghendaki kiamat datang? vs Harapan masih ada, hidup masih panjang… November 2, 2009

Posted by anammasrur in "entergizer".
add a comment

Tuhan berfirman: “Apakah kamu menghendaki kiamat dipercepat?”

1. Saat ini banyak orang berandai-andai mengenai kiamat akan segera datang.
1.1 Ada yang menggambarkan berbagai bencana yang terjadi sebagai ‘cicilan’ kiamat. Termasuk juga yang menggabung-gabungkan bahwa ini adalah ‘tanda-tanda’ teguran Tuhan, dengan rangkaian-rangkaian ayat-ayat dengan tafsir tertentu.
1.2 Ada yang meramal kiamat 2012 dengan kalender Maya dan data-data astronomis, termasuk tumbukan meteor dan benda langit yang besar
1.3 Ada yang menggambarkan tanda-tanda yang sudah terjadi hari kemarin dan hari ini (soal Dajjal, soal kerusakan jaman, soal Gog Magog, soal Matahari terbit dari Barat, tanda ini dan itu, dst)
1.4 Ada yang menceritakan, mengikuti, dan tidak sekedar mencari karena telah banyak yang mengaku sebagai atau diakui sebagai atau mengaku dan diakui sebagai Imam Mahdi, Pemimpin Akhir Jaman
1.5 Ada yang tahu dan terlibat kelompok-kelompok yang ingin selamat, entah mengikuti seorang Imam Mahdi ataukah kepemimpinan yang lain, juga dengan dalih “ghuroba”, atau dengan praktek-praktek tertentu yang seolah menyiapkan diri menghadapi kiamat.

Dalam “Law of Attraction” digambarkan bahwa kata-kata kita… akan ‘menarik’ untuk terjadi. Jadi sebetulnya yang dilakukan orang-orang dari 1.1 ke 1.5 memanglah ‘menarik’ kiamat untuk datang. Kecuali kita mengganti ‘tarikan’ tersebut.

2. Film-film Hollywood sudah sering menggambarkan kiamat… tetapi selalu diakhiri dengan harapan, bahwa ternyata kiamat tidak hari ini/itu. Ini adalah modus untuk ‘mau’ mengganti kata-kata penarik menjadi ‘harapan’. Saya kurang tahu dengan film 2012, apakah masih ada harapan itu ataukah hanya heroismenya saja (ketahuan belum nonton *kalo dah nonton ntar diedit). Tapi mengembalikan harapan sangat penting dalam konteks Law of Attraction.

3. Mungkin tulisan ini belum merangkum kesemuanya. Cuma mo bersaran diri bahwa yah…
3.1 kita harus membangun harapan, bahwa masa depan masih panjang dan kita bisa berbuat sesuatu bagi perbaikan dan kemanusiaan.
3.2 kita tidak hanya berharap yang terbaik untuk semua, kita akan melakukan yang terbaik untuk semua. itu saja.
3.3 kiamat harus diubah sebagai kaidah reflektif bahwa selalu ada kesempatan memperbaiki diri, kembali berorientasi pada Sumber, sebagaimana pesan-pesan abadi yang selalu dikumandangkan para nabi dan orang-orang suci. Kita mengikuti jalan para Nabi itu, berorientasi pada Sumber dan kemunculan berkala untuk memperbaiki kerusakan.

Demikian