Maqam ‘inda Mawlid Al-Habshi

Ekspresi kerinduan pada Rasul SAWW bisa banyak cara. Bagi mereka yang pernah berjumpa dengan Beliau SAWW, maka rasa rindu itu menjadi lebih lagi. Yaa nabiiy salaam ‘alaika, yaa rasul salaam ‘alaika, yaa habiib salaam ‘alaika, sholawatullah ‘alaika…

Tahukah wahai saudara ketika kita memanggil “Engkau” pada Rasulullah SAWW, beliau hadir… karena itu janji-Nya. Dan sungguh tidak tepat jika kita meng-Engkau-kan, dan sang Engkau tidak ada di tengah-tengah kita…

Mabruk…

Bercerai untuk Cinta II

Habibi terus saja belajar menekuni diri dalam tafakur berjalan. Habibi tidak menyepi atau menyendiri. Dia berjalan saja. Apa adanya, bahkan jika ditanya dia tidak tahu akan kemana. Ketika menyaksikan amarah istrinya, dia berusaha menjelaskan dalam rasionalitasnya yang terbatas. Tapi tidak dapat, tidak mampu. Akhirnya Habibi musnah… betul-betul musnah.

Ketika langit terbuka dilihatnya oleh Dewi bahwa Habibi ada di atas sana. Habibi menyaksikan dirinya ada di atas sana, pula. Pada titik ini perhentian keduanya. Pada titik ini keduanya diperlihatkan bahwa ada tangga yang begitu luar biasa jauhnya naik ke atas. Tapi tangga itu terkadang terlihat pendek dan dekat tetapi kadang terlihat tinggi dan jauh. Keduanya gemetar menyaksikan.

Akhirnya Dewi jatuh bersimpuh dan… ceraikan aku wahai suamiku dari pandangan mataku yang terbatas, dari penilaian duniawiku yang sementara. Ceraikan aku wahai suamiku dari kekasih mayapadamu agar berkasih dengan Sang Terkasih. Lupakanlah bentuk-bentuk yang sementara, lupakanlah benda-benda yang direka. Bunuhlah persepsiku akan Tuhan yang maha luarbiasa yang dicetak oleh akal pikiran. Akal pikiran kita, common sense, dicetak bertahun-tahun dalam buku dan pustaka, disebarkan dalam agama dan peribadatan adalah Tuhan dalam alam pikiran kita. Jauhkan kita dari menghakimi manusia hanya karena manusia itu berbeda dan berlawanan dengan Tuhan ciptaan pikiran kita. Sungguh alam lebih mengerti mengenai ketuhanan daripada akal pikiran kita… mengapa kita tidak belajar?

Tapi jadikanlah aku istrimu, wahai suamiku, pendampingmu untuk menempuhi jalan surgawi kita, jalan yang dibentangkan-Nya agar kita pulang kembali dalam kesempurnaan. Sungguh sang Terkasih memiliki caranya sendiri dalam mencinta dan dicinta. Seperti seorang anak yang menyerahkan sandalnya pada Tuhan dan dimarah oleh Musa AS.Ditakdirkan kita manusia berpasangan, ditakdirkan kita membuka pintu langit dalam rumusan 1/2 perjalanan agama. Sebuah syarat yang kita terima sebagai penempuhan apa adanya. Dan jadikanlah aku muridmu dan kau mursyidku.

Habibi hanya terbengong… 

Bercerai untuk Cinta I

Habibi dan Dewi adalah pasangan suami istri yang dipertemukan oleh sebuah kemungkinan. Keduanya adalah aktivis gerakan modern Islam yang luar biasa. Dewi aktif di pengajian yang sangat ketat memegang prinsip-prinsip syariat, demikian pula Habibi. Dewi mengenakan kerudung yang bersahaja, jubah dan terkadang, karena alasan mengikuti jejak istri-istri Rasulullah SAWW, mengenakan cadar. Habibi hanya biasa dengan baju yang sedikit “cingkrang” di celana. Keduanya menikah dalam buaian ibadah dan pencarian kemuliaan yang besar.

Waktu berjalan seiring semakin rentanya kehidupan. Tiba suatu waktu Dewi melihat perubahan Habibi yang tajam. Habibi jarang ikut sholat jama’ah di masjid setempat, mengkritik pengajian-pengajian, skeptis terhadap sikap keagamaan. Habibi menghabiskan malam-malamnya dengan bermain kartu sambil minum qohwah bersama teman2nya. Kebanyakan teman Habibi, Dewi juga kenal. Hampir kesemuanya adalah pengangguran terselubung, kelompok orang yang tidak mudah diterima di mainstream perikehidupan masyarakat yang disebut “normal“. Dalam pada itu adalah kenyataan pemasukan keluarga dari Habibi nyaris tidak ada. Dewi berusaha membantu dengan berdagang keliling. Kue dikemas plastik dan disegel dengan bakaran lilin. Dititipkannya di warung-warung, tapi hasilnya tidak seberapa.

Pada Habibi sendiri, atau setidaknya dalam pandangan Habibi, dia tidak mengalami perubahan. Malahan, dari hari ke hari, kepastian akan panggilan semakin dekat. Inipun disadari sepenuhnya oleh Dewi. Habibi merasa dirinya biasa dan normal saja. Tetapi Dewi, merasa lain, karena pandangan yang dia dapatkan dari ustad di mana dia mengaji menempatkan Habibi dalam sebuah kategori yang disebut “sesat dan menyesatkan”. Semakin jauh dan mendalam Dewi menekuni ajaran itu, semakin jauhlah ia akan citra Habibi yang dia inginkan. Dewi sendiri merasa bahwa pengalaman hidupnya bersama Habibi seperti menuju sebuah ketidakpastian. Dorongan material mendorong juga batasan-batasannya mengenai baik dan sebaliknya. Entah bagaimana ketiadaan periuk nasi terkait dengan soal-soal keimanan. Entah pada titik apa situasi berkekurangan itu diterimasebagai berkekurangan (bukan berkecukupan) sehingga dengan demikian bukan itu soalnya tetapi menjadi soal ketidakcocokan hati dan pikiran. Sebegitu hebatnya persepsi terkait dengan berbagai soal, dari nasi hingga tidak ketemu di suatu malam, dari soal rewelnya si bayi dengan rusaknya komputer dan televisi. Semuanya berkelindan dan seperti terpilah2 padahal satu jua. Dewi merasa ini semua akan berakhir… berakhir dengan satu keputusan yang pahit tetapi mungkin harus demikian.

Habibi sendiri terlampau asyik dengan dunianya. Pengejarannya tidak terperi dan termengerti oleh Dewi. Meskipun dalam kesadaran Habibi tidak ada kecuali ingin mendapatkan sejumput nasi, meski kadang mencuri. Apa daya itulah jalan tempuhan tanpa pilihan. Tapi ada satu titik Habibi ditarik oleh satu kekuatan yang luar biasa. Dalam titik inilah Habibi mulai menikmati. Habibi berusaha mencanda keluarga dengan tiupan mesra, ajakan untuk bersama. Tapi apa daya, bangunan lama Dewi akan sang suami sudah terpatri, setidaknya begitu yang terasa.Tibalah ketika akhirnya Dewi memutuskan sebuah kata… kata yang seharusnya tidak dia ucapkan. Ceraikan aku kanda, pisahkan aku dari dikau yang nista. Aku ingin beribadah kepada Yang Esa, yang mengasihi hamba-Nya dengan rela dan suka. Aku tidak mau menerima dalam rindu doaku ada kotoran menganggu. Tapi ketika amarah Dewi memuncak tiba-tiba ia tersadar iba, apalah arti kotoran di mata Tuhan yang maha suci. Apalah arti kenistaan di depan-Nya yang mulia. Bukankah kesemuanya sirna dan ditelan dalam cahaya-Nya yang terang benderang…

Dalam puncak amarah itu terbukalah langit satu persatu… tapi baru berhenti disitu.

bersambung…