Bercerai untuk Cinta I

Habibi dan Dewi adalah pasangan suami istri yang dipertemukan oleh sebuah kemungkinan. Keduanya adalah aktivis gerakan modern Islam yang luar biasa. Dewi aktif di pengajian yang sangat ketat memegang prinsip-prinsip syariat, demikian pula Habibi. Dewi mengenakan kerudung yang bersahaja, jubah dan terkadang, karena alasan mengikuti jejak istri-istri Rasulullah SAWW, mengenakan cadar. Habibi hanya biasa dengan baju yang sedikit “cingkrang” di celana. Keduanya menikah dalam buaian ibadah dan pencarian kemuliaan yang besar.

Waktu berjalan seiring semakin rentanya kehidupan. Tiba suatu waktu Dewi melihat perubahan Habibi yang tajam. Habibi jarang ikut sholat jama’ah di masjid setempat, mengkritik pengajian-pengajian, skeptis terhadap sikap keagamaan. Habibi menghabiskan malam-malamnya dengan bermain kartu sambil minum qohwah bersama teman2nya. Kebanyakan teman Habibi, Dewi juga kenal. Hampir kesemuanya adalah pengangguran terselubung, kelompok orang yang tidak mudah diterima di mainstream perikehidupan masyarakat yang disebut “normal“. Dalam pada itu adalah kenyataan pemasukan keluarga dari Habibi nyaris tidak ada. Dewi berusaha membantu dengan berdagang keliling. Kue dikemas plastik dan disegel dengan bakaran lilin. Dititipkannya di warung-warung, tapi hasilnya tidak seberapa.

Pada Habibi sendiri, atau setidaknya dalam pandangan Habibi, dia tidak mengalami perubahan. Malahan, dari hari ke hari, kepastian akan panggilan semakin dekat. Inipun disadari sepenuhnya oleh Dewi. Habibi merasa dirinya biasa dan normal saja. Tetapi Dewi, merasa lain, karena pandangan yang dia dapatkan dari ustad di mana dia mengaji menempatkan Habibi dalam sebuah kategori yang disebut “sesat dan menyesatkan”. Semakin jauh dan mendalam Dewi menekuni ajaran itu, semakin jauhlah ia akan citra Habibi yang dia inginkan. Dewi sendiri merasa bahwa pengalaman hidupnya bersama Habibi seperti menuju sebuah ketidakpastian. Dorongan material mendorong juga batasan-batasannya mengenai baik dan sebaliknya. Entah bagaimana ketiadaan periuk nasi terkait dengan soal-soal keimanan. Entah pada titik apa situasi berkekurangan itu diterimasebagai berkekurangan (bukan berkecukupan) sehingga dengan demikian bukan itu soalnya tetapi menjadi soal ketidakcocokan hati dan pikiran. Sebegitu hebatnya persepsi terkait dengan berbagai soal, dari nasi hingga tidak ketemu di suatu malam, dari soal rewelnya si bayi dengan rusaknya komputer dan televisi. Semuanya berkelindan dan seperti terpilah2 padahal satu jua. Dewi merasa ini semua akan berakhir… berakhir dengan satu keputusan yang pahit tetapi mungkin harus demikian.

Habibi sendiri terlampau asyik dengan dunianya. Pengejarannya tidak terperi dan termengerti oleh Dewi. Meskipun dalam kesadaran Habibi tidak ada kecuali ingin mendapatkan sejumput nasi, meski kadang mencuri. Apa daya itulah jalan tempuhan tanpa pilihan. Tapi ada satu titik Habibi ditarik oleh satu kekuatan yang luar biasa. Dalam titik inilah Habibi mulai menikmati. Habibi berusaha mencanda keluarga dengan tiupan mesra, ajakan untuk bersama. Tapi apa daya, bangunan lama Dewi akan sang suami sudah terpatri, setidaknya begitu yang terasa.Tibalah ketika akhirnya Dewi memutuskan sebuah kata… kata yang seharusnya tidak dia ucapkan. Ceraikan aku kanda, pisahkan aku dari dikau yang nista. Aku ingin beribadah kepada Yang Esa, yang mengasihi hamba-Nya dengan rela dan suka. Aku tidak mau menerima dalam rindu doaku ada kotoran menganggu. Tapi ketika amarah Dewi memuncak tiba-tiba ia tersadar iba, apalah arti kotoran di mata Tuhan yang maha suci. Apalah arti kenistaan di depan-Nya yang mulia. Bukankah kesemuanya sirna dan ditelan dalam cahaya-Nya yang terang benderang…

Dalam puncak amarah itu terbukalah langit satu persatu… tapi baru berhenti disitu.

bersambung…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s