Bercerai untuk Cinta II

Habibi terus saja belajar menekuni diri dalam tafakur berjalan. Habibi tidak menyepi atau menyendiri. Dia berjalan saja. Apa adanya, bahkan jika ditanya dia tidak tahu akan kemana. Ketika menyaksikan amarah istrinya, dia berusaha menjelaskan dalam rasionalitasnya yang terbatas. Tapi tidak dapat, tidak mampu. Akhirnya Habibi musnah… betul-betul musnah.

Ketika langit terbuka dilihatnya oleh Dewi bahwa Habibi ada di atas sana. Habibi menyaksikan dirinya ada di atas sana, pula. Pada titik ini perhentian keduanya. Pada titik ini keduanya diperlihatkan bahwa ada tangga yang begitu luar biasa jauhnya naik ke atas. Tapi tangga itu terkadang terlihat pendek dan dekat tetapi kadang terlihat tinggi dan jauh. Keduanya gemetar menyaksikan.

Akhirnya Dewi jatuh bersimpuh dan… ceraikan aku wahai suamiku dari pandangan mataku yang terbatas, dari penilaian duniawiku yang sementara. Ceraikan aku wahai suamiku dari kekasih mayapadamu agar berkasih dengan Sang Terkasih. Lupakanlah bentuk-bentuk yang sementara, lupakanlah benda-benda yang direka. Bunuhlah persepsiku akan Tuhan yang maha luarbiasa yang dicetak oleh akal pikiran. Akal pikiran kita, common sense, dicetak bertahun-tahun dalam buku dan pustaka, disebarkan dalam agama dan peribadatan adalah Tuhan dalam alam pikiran kita. Jauhkan kita dari menghakimi manusia hanya karena manusia itu berbeda dan berlawanan dengan Tuhan ciptaan pikiran kita. Sungguh alam lebih mengerti mengenai ketuhanan daripada akal pikiran kita… mengapa kita tidak belajar?

Tapi jadikanlah aku istrimu, wahai suamiku, pendampingmu untuk menempuhi jalan surgawi kita, jalan yang dibentangkan-Nya agar kita pulang kembali dalam kesempurnaan. Sungguh sang Terkasih memiliki caranya sendiri dalam mencinta dan dicinta. Seperti seorang anak yang menyerahkan sandalnya pada Tuhan dan dimarah oleh Musa AS.Ditakdirkan kita manusia berpasangan, ditakdirkan kita membuka pintu langit dalam rumusan 1/2 perjalanan agama. Sebuah syarat yang kita terima sebagai penempuhan apa adanya. Dan jadikanlah aku muridmu dan kau mursyidku.

Habibi hanya terbengong… 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s