Memahami “Sumeleh”

Pagi dini hari, seperti beberapa hari sebelumnya, bercengkerama dengan “diri sendiri” dan kali ini dengan seorang perempuan. Tiba-tiba “percakapan” mengarah pada memahami kembali makna “sumeleh”.

“Sumeleh” ternyata luar biasa. Secara bahasa adalah “seleh” dengan sisipan “um” atau “em“. “Seleh” adalah menaruh atau meletakkan. Jika kita memiliki sesuatu dan kita letakkan di suatu tempat kita pasti akan memastikan dia berada pada tempat yang tepat, sehingga, misalnya tidak jatuh, goyang atau meresikokan sang barang dari rusak, hilang atau hal-hal lain yang tidak diinginkan si empunya barang.

Pada kerja/kegiatan “seleh” (nyeleh) akan berlaku hukum tawakkal yaitu ketika kita letakkan dia dan kita telah memastikan keadaannya, maka kita akan “meletakkan” semua urusan pada alam… Kita akan pasrahkan bahwa “aku telah berbuat mampuku tuk menjaga dan kini giliranmu, alam, tuk menjaganya bagiku”.

Dan apabila tiba-tiba terjadi gempa, dan dia terjatuh, tertimpa dan mengalami kerusakan, kita tidak akan menyalahkan alam, tempat kita meletakkan, sebagai “yang bersalah” karena kita sudah memasrahkan seluruh keadaan dan kejadian apa adanya itu. Selain kita menyadari bahwa ada kekuatan di luar sang tempat menaruh yang tidak mampu ia kendalikan. Kekuatan ini seperti kekuatan eksternal yang dahsyat dan kuat.

Sumeleh” adalah pasrah, ikhlas, nrimo, patrap, dan apa adanya (bloko). Nrimo itu artinya ya… tanpa tendensi, tanpa pretensi, tanpa penilaian, menerima saja. Menerima begitu saja bukan karena meminta juga bukan karena memberi. Demikian juga pasrah, tidak ada kondisional, tidak ada persyaratan, tidak ada embel-embel yang menyertai, baik menempel atau melekat. Dia pure, murni, tidak berwarna dan tidak berbau. Apa adanya, blaka, “as it is”.

Yang paling menarik adalah istilah “patrap“. Patrap bersifat internal dan merupakan kepasrahan total tanpa ampun. Patrap, seperti hampir-hampir tanpa upaya, dia menyerah saja, pasif saja. Sumeleh memberikan “usaha” yaitu meletakkan dan kemudian menyerah. Patrap… (seperti) tanpa “usaha” sama sekali. Patrap dengan demikian adalah kondisi-kondisi dari sumeleh atau “ahwal” (ahwal sebagai jama’ dari haal) dari sumeleh. Sedangkan sumeleh adalah stasiunnya atau “maqomat” nya.

Untuk memudahkan kita beri contoh sederhana. Dalam hidup kita memiliki perasaan-perasaan. Di antaranya misalnya perasaan “takut” dan “berani”. Rasa takut yang sangat bisa menjadikan kita pengecut dan sebaliknya rasa berani yang kuat menjadikan kita nekat. Kemudian orang-orang mengajarkan keseimbangan “takut” dan “berani” sedemikian rupa.

Ide mengenai harmoni, keseimbangan (balance), keselarasan, proporsional didasarkan pada pengertian kita akan tao… pemahaman kita akan yin dan yang. Yin-yang yang dinamis dan saling mengisi dan saling menerima-memberi. Alam semesta dibangun dari paradoks-paradoks yang saling jalin menjalin. Kontradiksi-kontradiksi mendorong dinamika yang terus menerus. Sebagian, sebagaimana Hegel, menawarkan thesis-antithesis sehingga manusia membangun sinthesis. Sebagian lagi menawarkan gagasan “sak madyo” alias yang sedang-sedang saja. Gagasan keseimbangan atau proporsional lebih diminati karena itu yang selaras dengan ide equilibrium dalam tatanan modern. Mekanika Newtonian mengenai kesetimbangan digunakan untuk menjelaskan bahwa semua hal akan mencapai kesetimbangan tertentu dan mempertahankannya sedemikian rupa.

Manajemen modern dan para pelakon modern berharap dengan keseimbangan ini dia bisa memenej dan mengendalikan perasaan-perasaan dan kemudian mengendalikan alam. Ada semacam kekuasaan yang mengintai sebagai manusia untuk mengendalikan, mengontrol, mengelola, menguasai…

Pada pengertian “sumeleh” keseimbangan itu telah dileburkan pada penerimaan keadaan-keadaan apa adanya (wu wei). Wu wei adalah prinsip inti dari tao. Dia berada di titik tengah dari citra tao. Dalam keseimbangan tidak terjadi penguasaan, pengontrolan, pengendalian, dia ada di dalamnya sebagai esensi dan titik utama. Citra tao yang tak terlihat bahwa dinamika itu akan mengerucut menuju satu titik “pancer“.

Maka pengertian “sumeleh” mengatasi makna-makna modern akan keseimbangan (balance), keselarasan (harmony) dan equilibrium. Dia melampaui itu semua. Sebagaimana kata Siddharta “isi adalah kosong, kosong adalah isi“… Kita memahami dan menerima apa adanya rasa takut kita. “Aku memang takut, inilah takutku, aku terima ia apa adanya saja”. Jadi alih-alih menolak rasa takut agar dia seimbang dengan berani, dia diterima apa adanya saja. “Ya Allah meskipun aku takut, aku terima, aku pasrah, ikhlas karena itu dari Mu…”

Demikian pula rasa berani, kita terima apa adanya, sebagaimana adanya ia… “Ya Allah meskipun aku berani, aku terima ia sebagai karunia Mu, aku pasrah dan kuserahkan urusan Mu dalam lingkungan amar Mu”…

Akhirnya kumengerti sebagian dari makna “sumeleh” ini… sedemikian indahnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s