Gusti Ayu Ratu Kidul yang kucintai…

Dengan tidak mengurasi rasa hormat saya kepada Gusti Ayu Ratu Kidul (dan juga Nyai Roro Kidul dan Nyai Blorong sosok lain yang dikenali). Kutuliskan ini berdasarkan cerita kawan saya, Herman. kepada saya sekitar dua tahun lalu sebelum Gempa hebat menimpa Yogyakarta 23 Mei 2006, sebuah pergelaran Opera Mystica setelah mengupas lagi catatan-catatan La Divina Comedia dari Dante Aligieri.

Pernah ada seorang dari Singapura yang mengaku masih keturunan campuran Jawa dan Cina. Meskipun bisnisnya bagus dan cukup sukses, dia merasa masih memiliki hambatan yang baginya serius. Segala upaya yang dia kerahkan tidak mampu menumpas halangan itu, malah keadaan semakin memburuk, dengan persaingan yang dirasa semakin tidak sehat.

Dari cerita dan cerita, dia dengar di Pantai Selatan Jawa ada seorang Ratu kerajaan makhluk halus yang menguasai Jawa dan dapat mendatangkan kekayaan. Dia berpikir ini adalah satu alternatif penyelesaian masalahnya yang menganggu dan menghambat.

Diberitahukan kepadanya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar dapat bertemu Sang Ratu. Berangkatlah ia ke Pantai Selatan untuk menemui Sang Ratu agar dapat mengadukan masalahnya dan berharap dengan sangat Sang Ratu dapat menyelesaikan masalahnya.

Singkat cerita dia… Dia menemui sebuah pintu gerbang gedung mewah yang super lux. Setelah memasuki gedung setelah dipersilakan penjaga yang berseragam layaknya satpam. Di depan bagian lobby ada resepsionis yang menyambutnya. Resepsionis itu menggunakan baju yang rapi berwarna merah muda. Persis layaknya seperti resepsionis hotel berbintang sembilan… bintang lima lah.

“Selamat malam pak, apa yang bisa kami bantu?”

“Ya… saya ingin bertemu Ibu Ratu,” jawabnya tegas dan singkat

“Baik, bapak memang sudah ada janjian. Tetapi kebetulan Ibu Ratu sedang ada seminar. Harap bapak menunggu sebentar.”

“Hmm…. baiklah,” sambil beranjak untuk duduk di kursi sofa yang tersedia tidak jauh dari situ.

Sebentar kemudian, perempuan resepsionis itu berdiri dan mengatakan, “Ibu Ratu bersedia menemui anda di Kantor Nya, mari saya antar menemui beliau…”

Kemudian dia masuk ke sebuah ruangan kerja dengan meja meeting yang sangat besar. Tampak seorang perempuan paruh baya duduk di balik meja, dengan baju layaknya seorang perempuan manager sebuah bank internasional.

“Silakan masuk dan selamat datang,” dengan penuh wibawa dia tersenyum dan memberikan tangannya untuk menjabat tangannya. “Silakan duduk”.

“Apa yang bisa saya bantu pak?”

Kemudian diungkapkanlah segala masalahnya kepada perempuan di depannya yang dipanggil sebagai Ibu Ratu. Sebagai catatan saja sebetulnya yang ditemui bukanlah Gusti Ayu Ratu Kidul akan tetapi Nyai Roro Kidul.

Singkat cerita lagi, dia yang dipanggil sebagai Ibu Ratu itu mengatakan, “Kami telah mempelajari proposal (masalah) Bapak, pada intinya kami mau dan bisa membantu. Tetapi kami memiliki beberapa prosedur dan persyaratan. Jika Bapak bersedia, Bapak harus menyetujui persyaratan dan melaksanakan prosedur tersebut. Bagaimana?”

Tidak lama kemudian muncul lembaran-lembaran formulir isian (disebuah layar monitor sentuh) yang harus diisi dan ditandatangani (dengan semacam pena pointer). Sementara itu seorang operator siap membantu untuk mengentri data-data yang akan dimasukkan ke dalam server dan sistem yang ada di kantor super megah itu. Diinformasikan bahwa semua sistem telah diotomatisasi, di mana otorisasi Ibu Ratu sangat penting untuk pemrosesan data.

…. cerita ditutup dulu…

Meskipun saya dengar banyak makhluk menyalahgunakan bahkan mencatut nama beliau, besar harapan saya Gusti Ayu memaafkan saya yang menceritakan ini dan memaafkan mereka yang mencatut dan menyalahgunakan. Saya meski hanya mendengar Gusti Ayu adalah manusia puteri dari seorang shaleh dan seorang dzuriyat Rasul. Berbeda dengan makhluk-makhluk yang menghamba kepada beliau, mereka adalah dari alam “tetangga”.

Dan kawan2 semua, cerita di atas bukanlah fiksi. Dalam persepsi alam yang jagattraya, alam kajiman atau alam ing lelembut diakui keberadaannya. Akan tetapi disadari bahwa pembentukan (shurah) alam tersebut adalah ‘hasil’ kebudayaan kita. Tidak perlu bertanya kepada saya mengapa di kita mengenal Kuntilanak tetapi tidak mengenal Vampire, kita mengenal Jailangkung tapi tidak mengenal Werewolf. Kita sekarang mengenal Suster Ngesot yang dulu ngak dikenal, karena dulu lebih kenal Gondoruwo atau Banaspati yang mungkin sudah tidak dikenali lagi. Bukan mereka tidak ada dan bukan pula mereka ada begitu saja. Kebudayaan kitalah yang membangunnya dengan weltanschauung kita, alam pikiran kita. Maka yang kita pahami dari alam tersebut bukanlah “as it is” tapi sudah diolah dalam alam kesadaran kita sendiri. Atau secara tidak langsung bahwa alam itu ada karena kita mengadakannya untuk dapat dipersepsi ke dalam kesadaran kita dan kebudayaan kita.

Kedua, yang perlu diperhatikan pula adalah memahami makna “jagattraya” (tiga alam) terutama dalam membangun kepemimpinan yang menyayangi seluruh semesta. Alam bawah atau kajiman sendiri tentu bertingkat-tingkat yang sangat banyaknya dan memiliki keragaman yang luar biasa. Yang menurut saya boleh-boleh saja mempuat klasifikasi, penyebutan-penyebutan dan istilah-istilah. Dan banyak mereka yang mengaku spiritualis memberikan penamaan-penamaan berdasarkan insight mereka, pembacaan mereka, dlsb… Tapi … njuk ngopo, untuk apa? Karena poin pentingnya adalah “bebrayat ageng” ini harus disadari dalam kasih dan cinta, bukan dengan analisis-analisis yang kadang kurang membantu.

Kalo alam kamanungsan saja beraneka luar biasa (dengan ribuan Adam), dari alam fisikal, benda2 mati, nabati, hewani sampe manusia sendiri begitu beragamnya, maka alam kajiman lebih “berwarna warni”. Demikian juga alam rohani, alam orang-orang suci, alam malaekat (malakut), alam antara, alam jabarut, lahut, dst… Tapi yo njuk ngopo, itu untuk apa… Apalagi menjadi orang yang “sok tahu” dengan atas nama atau mengaku sebagai indigo, spiritualis, supranaturalis, paranormal, dll yang merasa mampu meramal, bisa melihat yang tidak terlihat, dst dan apalagi menjadikan itu sebagai mata pencaharian, mempengaruhi orang lain agar kagum, dst. Padahal yang begitu2 itu biasa saja dalam alam pikiran yang saya pegangi. Sebuah kelumrahan, kelaziman. Karena bagi kami itu hanya serangkaian perlintasan dari jalan Cinta yang sesungguhnya. Nah apabila ada semangat adigang adigung adiguna, merasa pintar, pandai, berlebih… wah maaf nuwun sewu, kesombongan intelektual seperti itu tidak saja menjadi hambatan tapi juga menghalangi pemahaman yang lebih baik akan semesta jagattraya.

Dengan segala kerendahan hati semoga tulisan ini sebagai pengingat diri dan semoga bermanfaat bagi semesta.

—–
Kisah tersebut TIDAK terkait dengan si Buto Ijo (dan bukan Hulk) yang oleh teman saya ditangkap di daerah Wiyoro, dan diserahkan kepada “Polisi Laut Selatan” untuk kemudian diajukan ke pengadilan karena perbuatannya terhadap sebuah keluarga atas perjanjian tidak legal dengan seorang tetangga yang membenci keluarga itu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s