Hikayat si Pemahat Batu

Saya pernah membaca bacaan yang cukup menarik untuk kita diskusikan di sini. Kalau tidak keliru judulnya adalah De Steenhauwer (pemahat batu). Judul itu merupakan salah satu bacaan yang ditulis oleh para dosen Universitas Indonesia seksi Sastra Belanda dan diterbitkan oleh PT Ichtiar Baru – Van Hoeve, Jakarta. Bukunya berwarna biru.

Begini ceriteranya: Alkisah, hiduplah seorang lelaki pemahat batu. Pekerjaannya berat dan penghasilannya sangat kecil. Ia pun mengeluh dan kemudian berdoa,”Oh betapa enaknya jadi orang kaya. Saya bisa beristirahat di atas tempat tidur indah dengan selambu dari kain sutera.”

Tiba-tiba datanglah seorang malaikat yang kemudian berkata, ”Doamu terkabulkan.” Dan jadilah ia kemudian seorang yang kaya.

Suatu hari raja lewat di depan rumahnya. Raja itu dikawal oleh pasukan berkuda yang berada di depan dan belakang kereta. Seseorang memayungi raja dengan payung dari emas. Ketika itulah ia sadar bahwa ia nasih kalah kuasa dengan kekuasaan seorang raja.

Ia kemudian kecewa dengan nasibnya. Ia kemudian berdoa agar bisa menjadi raja. Malaikat datang dan mengabulkan permintaannya. Ia menjadi raja. Kemanapun ia pergi selalu dikawal oleh pasukan berkuda dan payung emas selalu memayunginya kemanapun ia pergi.

Pada suatu musim kemarau yang panas, matahari bersinar dengan sangat kuatnya. Bumi seperti terbakar, tumbuh-tumbuhan banyak yang mati, rumput kering. Payung emasnya tak mampu menahan panasnya sinar matahari. Ia pun meratapi dan kecewa atas nasibnya. Ternyata matahari lebih kuat daripada seorang raja. Ia pun ingin menjadi matahari. Malaikat kembali mengabulkan keinginannya.

Dengan penuh suka cita kemudian ia ingin menunjukkan kekuasaannya kepada makhluk di bumi. Dia buat pohon-pohon meranggas, rumput kering, sungai dan danau kering, orang orang kepanasan dan kehausan, termasuk para raja yang senang menyombonglan kekuasaannya.

Tiba-tiba muncullah awan, yang menghalangi sinarnya ke bumi. Ia marah, tetapi awan itu tak bergeming. Ternyata awan lebih kuat daripada matahari. Kemudian iapun kecewa telah menjadi matahari, ia ingin menjadi awan. Malaikat datang dan mengabulkan permintaannya.

Untuk menunjukkan kekuasaannya ia turunkan air hujan sebanyak-banyaknya. Air sungai meluap dan banjir terjadi di mana-mana. Makhluk di bumi tak berdaya melawannya. Namun ketika hujan jatuh pada sebongkah batu besar, batu tersebut tak bergeming dan tidak tunduk oleh kekuasaan air hujan. Ia curahkan air hujan lebih deras lagi, batu itu tetap tak bergeming. Iapun kecewa dengan dirinya. Ternyata batu masih lebih kuat dibanding dirinya. Ia ingin jadi batu, dan malaikat juga mengabulkan permintaannya. Ia sekarang bisa berdiri kokoh, tegar melawan panasnya matahari dan datangnya air hujan.

Tiba-tiba datanglah seorang berkulit hitam, berbadan kurus dengan pahat dan palu di tangannya. Orang tersebut menancapkan pahat dan memukulinya dengan palu. Satu persatu kepingan-kepingan batu rontok dari bongkahan batu tersebut. Akhirnya iapun merasa bahwa pemahat batu itu lebih perkasa daripada dirinya. Dan ia inginkan agar malaikat mengembalikannya sebagai seorang pemahat batu.

Cerita di atas paling tidak memberi kita beberapa makna yang penting untuk menjalani hidup ini. Pertama, kekecewaan bisa menjadi sumber penderitaan. Kekecewaan biasanya muncul karena perbedaan antara keinginan dan kenyataan. Keinginan si tukang pemahat batu untuk menjadi yang paling berkuasa dan paling kuat ternyata tidak pernah tercapai. Ternyata semua benda-benda dan makluk di bumi ini pasti ada yang mengunggulinya. Tentu masih ada langit di atas langit, kata orang. Kita tentu akan terus kecewa bila kita mempunyai keinginan tak terbatas. Sekalipun kita mungkin sudah menjadi direktur, masih akan tetap kecewa dengan jabatan itu, karena kita menginginkan menjadi direktur utama. Ketika kita sudah menjadi direktur utama akan tetap kecewa bila kita menginginkan menjabat sebagai menteri atau presiden.

Dalam kehidupan berorganisasi, rasa kecewa seorang karyawan merupakan penyakit yang menggerogoti kinerja perusahaan. Karyawan yang kecewa punya kecenderungan mempunyai motivasi untuk berprestasi yang rendah pula. Seseorang yang kecewa sering membuat yang bersangkutan bekerja asal-asalan, dan kurang bersemangat. Dan hasil pekerjaannya tentu saja juga kurang maksimal. Rasa kecewa merupakan saudaranya iri hati. Melihat kawan seangkatan naik pangkat, sementara kita tidak, telah membuat karyawan tersebut kecewa dan produktivitas kerja jadi menurun. Kalau ia tidak mampu menghapus rasa kekecewaannya dengan segera, dan kemudian kinerjanya juga menurun, maka setelah setahun kemudian karyawan tersebut tetap tidak naik pangkat. Bahkan kenaikan berkalapun tidak. Siapa yang rugi? Bukan siapa- siapa: karyawan itu sendiri yang rugi.

Kekecewaan yang berlarut-larut tentu akan membuat kita frustrasi, depresi, mengalami insomnia (kesulitan tidur), denyut jantung tidak teratur, tekanan darah tinggi dsb. Kekebalan tubuh juga menurun. Dan berbagai penyakit tentu lebih mudah masuk ke tubuh kita. Oleh karena itu rasa kecewa tidak boleh dibiarkan berlarut-larut menggerogoti motivasi kerja.

Sebaliknya rasa kecewa kita jadikan pendorong semangat kerja. Rasa kecewa adalah sangat manusiawi. Kita boleh kecewa tetapi semangat dan motivasi harus tetap tinggi. Pencapaian tujuan yang kita capai dapat mengobati rasa kecewa yang kita alami. Kita menjadi puas atas pencapaian kita. Ditolak naskahnya berkali kali tentu membuat kecewa. Tetapi Charles Dickens, penulis terkenal Inggris tidak mengendurkan semangatnya. Ia terus menulis dan akhirnya diterima dan akhirnya ia menjadi penulis yang sangat terkenal.

Cara lain mengatasi kekecewaan adalah dengan, mengurangi perasaan kecewa itu sendiri. Caranya adalah dengan mensyukuri yang ada. Pepatah mengatakan Man proposes, God disposes (Manusia berusaha, Tuhan menentukan). Kita manusia diberi kebebasan untuk berusaha tertapi manusia tidak sepenuhnya mampu menentukan hasil akhirnya. Oleh karena itu terhadap apa yang telah terjadi saat ini kita anggap sebagai hadiah Tuhan.

Kata sekarang bisa ditjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi present. Tetapi kata present yang diucapkan sedikit berbeda bisa berarti hadiah. Artinya Tuhan memberi waktu dan hidup kepada kita semua sebagai hadiah. Hadiah harus kita sukuri dan kita rayakan dengan suka cita.Sementara masa lalu adalah history (sejarah), sejarah hidup kita. Dan masa datang adalah misteri, yang tentu saja masih menjadi rahasia Tuhan. Maka saat sekarang ini harus kita rayakan. Sebaiknya kita menyitir slogan Garda Oto (perusahaan asuransi mobil): “Don’t worry, be happy.” Dengan demikian kita menerima kejadian, situasi, konsisi yang mengenai diri kita baik senang maupun tidak senang. Tidak menerima kenyatan berarti kita menentang hukum Tuhan dan ini akan menjadikan kita frustrasi, dan memusuhi orang lain.

Dengan menerima kenyataan, maka kita sesungguhnya kita telah bertanggungjawab kepada iri kita sendiri dan tidak menyalahkan orang lain. Semua ketidakenakan yang kita alami sesungguhnya mempunyai maknanya sendiri.

Perasaan kecewa juga dapat dikendalikan dengan penentuan tujuan yang realistis. Dalam mencapai sasaran kita tentu tidak ingin dikatakan sebagai pungguk merindukan bulan. Keinginan atau target yang kita capai hendaknya memperhatikan potensi kita. Dan dalam mencapai target dan keinginan tersebut hendaknya kita lakukan dengan ikhlas dan bahagia serta tidak memaksakan diri (ngoyo).

Demikian…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s