Namamu Zulfiqar

Setelah lama tidak berjumpa akhirnya aku ketemu kembali dengan kawanku Herman. Herman bernama lengkap Herman Achmad Marup, sesuai pernyataannya sendiri, dia meninggal dunia 20 tahun lalu ketika berusia 22 tahun, saat dia bertemu dengan Malaikat Izra’il dengan status dia sebagai takmir Masjid Kuncen.

Dalam perjumpaan ini, Herman sudah menuliskan satu buku (tidak ada kaitannya dengan tema catatan ini), dengan dibantu kawan saya yang lain Erwan sebagai editor, dengan tajuk “Pisowanan Alit”. Buku ini adalah buah dari permenungan panjang jauh sebelum “TOJ =Tjap Orang Jadzab” diperkenalkan. Masih kuingat perjalanan bersama menelusup, membongkar, membabar berbagai situs dan candi di tahun 2005.

Dalam buku itu Herman telah berganti nama menjadi Herman Sinung Janutama. Di mana editornya sendiri Erwan yang semula bernama Erwan Rosa, berdarah padang, berganti nama menjadi Erwan Haikal Janma.

Cerita punya cerita, adalah wangsit atau mimpi yang pasti baik Herman maupun Erwan berganti nama atas petunjuk “sesuatu” yang jelas diungkapkan. Terus tanpa harus mengambil beban berat, bergantilah nama… begitu saja.

Nah bagaimana dengan Anam ini. Ceritanya dimulai semenjak upaya beberapa kawan untuk memulai kembali pengajian barzakh di yogyakarta sekitar 2005. Setelah semalam suntuk mendengarkan pengajian dari KH Muhammad Zuhri (Pak Muh), saya mendapatkan mimpi. Saya diangkat terbang ke langit dengan mengendarai awan. Pada setiap lapis langit memiliki suasana dan citranya yang berbeda. Tapi semua berlangsung cepat.

Pada sampai pemberhentian saya berjumpa mendiang ayah, Masrur bin Ridhwan Alhabsyi. Dan kemudian ada seorang tua dengan tongkat menghampiri saya. Saya sendiri kurang pasti apakah itu ayah saya sendiri ataukah Pak Muh. Tapi ingatan yang kuat adalah bahwa itu Pak Muh.

Yang sangat pasti kuingat bahwa orang tua itu mengatakan “Namamu Zulfiqor”. Nah tanpa berbelit dan bersulit… kutambahkan nama itu.

Kenapa baru sekarang? Yah waktu konsultasi ke Pak Muh dan juga ke Herman, mereka lebih memberi makna mengenai mi’raj. Bahkan memberi keterangan bahwa saya adalah ahli pikir (dzu al-fikr; actus intellectiva). Sesuatu yang menarik. Jadi saya sekarang “feel free” tuk menggunakan nama itu. Semacam nama tua, nama menginjak ke tingkat kedewasaan tertentu, nama mengincak stasiun spiritual tertentu… wah perjalanan masih jauh.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s