Rethinking Poliandri

Latar Dasar
Banyak teman, adik dan kolega yang mengeluh bahwa mencari pekerjaan sekarang sulit. Dan masalahnya kesulitan mencari kerja, terutama pada sektor-sektor basah, didominasi oleh perempuan. Jumlah perempuan terdidik meningkat tajam disertai dengan prestasi yang tidak saja mengimbangi malahan mengungguli kebanyakan rekan-rekan laki-lakinya.
Tidak hanya itu, preferensi perusahaan dan para penerima kerja, terutama sektor-sektor nonprofit yang semakin kompetitif dalam penerimaan kerja, mendorong partisipasi perempuan. Banyak alasan dikemukakan salah satunya terkait akuntabilitas, kemampuan untuk jujur, tidak tricky, pekerjaan rapi dan selesai pada waktunya, mengena pada sasaran, mencapai bahkan melampaui target penjualan, earning, atau juga mencapai tujuan misi dan visi.
Seorang kawan, seorang fasilitator senior, menyampaikan bahwa ketika memfasilitasi lokakarya atau pertemuan yang dihadiri perempuan lebih menghasilkan capaian-capaian kongkrit daripada dengan forum atau pertemuan yang didominasi pria, yang kebanyakan ngomong ngalor ngidul, penuh jargon-jargon yang kongkritnya nol. Dia merasa bahwa preferensi masa kini dan depan adalah perempuan, di segala sektor.

Soal sharing power and benefit
Pada awal kejadian itu semua adalah ketidakseimbangan yang kemudian disadari sebagai masalah. Ketidakseimbangan itu berujung pada ketimpangan pembagian kuasa dan faidah/manfaat (benefit). Maka kesadaran akan hal itu, peradaban modern berlomba-lomba memperbaiki diri, baik dari sistem maupun pembudayaannya. Dan hasilnya sebagaimana dipaparkan di atas, sejumlah preferensi baru yang mengarah pada ketidakseimbangan berikutnya.
Saat ini kelompok/kelas laki-laki mengalami stagnasi sejak women’s lib dikobarkan dan jauh sebelum Simone de Bouvoir menulis. Stagnasi ini di seluruh sektor, termasuk sektor kecerdasan dan pemanusiaan. Stagnasi ini diimbangi dengan semakin menjalarnya pengarusutamaan gender hingga ke desa-desa di pedalaman dan hutan-hutan, bahkan orangutan di kalimantan pun mengerti makna gender, sebagai konstruksi sosial dalam membedakan kelamin. Itu artinya, perempuan berkembang pesat dan difasilitasi, dan sebaliknya laki-laki yang sebelumnya dianggap berkembang lebih dahulu, malah stagnan. Akhirnya ketidakseimbangan baru akan terwujud.
Pada saat yang sama, kegiatan-kegiatan domestik telah diambilalih oleh kalangan profesional, baik perempuan maupun laki-laki, seperti cleaner (urusan bersih-bersih rumah dan kamar), baby sitter (banyak teman saya laki-laki yang berprofesi baby sitter), dan penetrasi mesin yang masif menggantikan manusia seperti laundry machine.

Poliandari itu mungkin bisa masif
Diskursus poligami cenderung didominasi oleh perkawinan majemuk perempuan (poligini) dan tidak sebaliknya (poliandri). Padahal praktek poliandri juga sama-sama dikenal dalam berbagai budaya. Dalam minoritas di Jawa fenomena poliandri eksis dan bisa ditemukan. Artinya secara kultural tidaklah baru.
Ketidakseimbangan baru yang saya tulis di atas akan mendorong kelas/kelompok laki-laki pada kemajhulan baru. Alih-alih perlawanan dengan kekerasan, yang biasa dilakukan dan dikenal sebagai bahasa laki-laki, itu semua telah diatasi secara sistematis. Bahasa-bahasa perlawanan laki-laki telah dikenali dan diantisipasi. Laki-laki akan setengah mati untuk mencari kerja, mempertahankan hidup. Sektor formal telah dikuasai perempuan, sedikit sektor informal laki-laki masih bertahan. Sektor kreatif misalnya yang sangat menarik didominasi perempuan.

Usia harapan hidup laki-laki kini setengahnya perempuan. Pola diet, karena progress dan kesadaran perempuan adalah faktor berpengaruh, karena meski banyak perempuan merokok, tapi bunuh diri pelan-pelan lebih banyak dilakukan laki-laki (jujur saja pola makan laki-laki lebih kacau).

Angka pengangguran laki-laki meningkat dengan tajam lebih dari angka pengangguran rata-rata nasional dan dunia. Salah satu pilihan laki-laki adalah menerima poliandri sebagai alasan ekonomi untuk mempertahankan hidup.

Pola membujang perempuan sebagai masalah
Kebutuhan seksual perempuan sama dan berbeda dengan laki-laki. Tetapi berbeda dengan itu kebutuhan emosional akan keluarga juga telah berubah. Banyak perempuan memilih membujang atau selibat sama sekali. Ini adalah satu kendala akan pola poliandri. Untuk mengantisipasi hal ini mungkin skim jaminan sosial laki-laki harus diterapkan untuk prevent homeless laki-laki dan kekerasan di jalan.

Maka perempuan sebaiknya menimbang untuk berkeluarga dan berpoliandri…
Demikian

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s