Spirituality NO Commodificacy YES (Menjadi Habib II)

Kemarin saya bertandang ke kawan lama, seorang penjual barang antik dan mistikus, setidaknya komentator pengalaman mistik.

Cerita punya cerita kita bicara mengenai pengalaman masa lalu saya ketika bertandang pake kendaraan butut ke Pesantren Mlangi tahun 1995-an. Waktu itu saya masih ingat saya mau mampir ke rumah Gus Najib sekedar main dan bercengkerama. Tapi sambutan ternyata berbeda, banyak santri dan keluarga kyai menyambut saya disangka saya putra dari Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan.

Tentu saja saya celingukan dan “kagok”. Dan saya menampik, dan bilang… ngak koq saya hanya seorang Anam, dari Semarang, yang kuliah di Yogyakarta.

Teman saya langsung berkomentar: “Wah koq ngak sekalian aja, ngaku jadi anaknya Habib Lutfi.”
Dan dia muncul ide untuk mendandani saya dengan surban, lengkap dengan baju jubah putih, plus tentu saja tasbih yang diputar-putar di jari jemari. Terserah apa yang dibaca, toh secara spiritual itu tidak penting.

Dalam khazanah spiritual, melafalkan wirid misalnya “sugeh… sugeh… sugeh” (kaya, kaya, kaya) adalah kemestian dan yang lebih pas daripada menyembut asma-asma Arab yang kita tidak ketahui maknanya.

Nah, entar saya mau diiring dengan mobil mercedes tua, dia siap jadi supir. Seluruh badan disiram minyak wangi terutama tangan.

Dengan modal wajah, perawakan dan gaya… yang telah diolah, maka saya akan diantar berkeliling ke tempat khaul atau berbagai acara di desa-desa atau kawasan pesantren.

Kerjaan yang harus saya lakukan menyiapkan tangan kanan untuk siap dicium “umat” dan saya tidak boleh menatap wajah mereka, cukup bergumam seperti wirid dan memandang entah kemana.

Kata teman saya: Pernah ada kejadian. salam tempel yang dihasilkan mencapai total 36 juta rupiah.

Maka komentar saya: wah luar biasa ya… kalo untuk masyarakat perkotaan pasti modusnya lain. Pake bahasa yang lain, meski sebenarnya cuman gatuk matuk, pake gaya intelek, pake muter2 teori agar pas, terus menebar senyum, mengumbar pujian… wah jualan yang menarik.

Spiritualitas adalah jualan yang sedang laku sekarang. Agama sudah ngak laku, karena terlalu kaku, dan hanya para militer ato orang yang gemar baris berbaris. Spiritualitas lebih lembut dan lebih menghasilkan. Mari kita jual, bila perlu diobral. Yang penting kan manfaat, memberi motivasi, dan ada hasil yang nyata. Toh kalo berhasil bisa nyebar duit 1 milyar dari angkasa…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s