Rahasia Mu… sungguh berat menjaga Nya

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip” (27:40)

Menurut keterangan yang disebut ‘abdun pada ayat tersebut adalah Asrif bin Makhoyya, seseorang yang memiliki ‘Ilmu Huruf. Tapi saya ingin mengembalikan pada kata asalnya yaitu ‘abdun atau seorang hamba.

Adalah Allah yang memilih di antara hambaNya untuk menjadi bagian dari barisan kekasih yang terkasih (wali). Dan walayah (kewalian) adalah hak Allah. Tidak ada yang mengetahui kewalian kecuali Allah sendiri, dan hamba tersebut dan wali-wali Allah (la ya’riful waliy illa waliy). Allah adalah sebaik-baik penutup rahasia.

Samudera walayah (kewaliyan) ada dua yaitu samudera bawah yang tampak terang benderang di mata umat yang beriman dan samudera atas yang ditutup dalam rahasia Allah (sirrullah). Mereka adalah yang terpilih di antara terpilih, khowashul khowash.

Dikisahkan bahkan seorang Musa AS “tertipu” ketika mendapati seorang hamba yang compang camping dan dihina orang-orang adalah salah satu kekasih Allah. Seandainya Allah tidak mengingatkan Musa AS, tentu Rasul mulia itu tidak tahu. Musa AS, Rasul Allah yang Allah berkenan berbicara langsung kepada beliau (Kalimullah).

Juga Musa AS yang kehilangan kesabaran ketika seorang hamba Allah membunuh anak kecil, membangun tembok dan melobangi kapal. Bahwa orang tersebut… yang membunuh anak kecil, melobangi kapal dan membangun tembok adalah salah satu wali Allah yang mulia.

Dikisahkan seorang muda yang memiliki hutang bertumpuk-tumpuk, istrinya sakit dan sedang hamil. Tiba-tiba dalam doanya, dia berdiri. Dari tempat berdirinya bertumpuk-tumpuk koin dinar emas dan berbagai harta. Dikisahkan dia tidak dapat bergerak karena dia berada di tengah lautan koin emas itu, dari ujung ke ujung yang dilihatnya hanyalah kumpulan emas itu.
Tapi dia tidak bergeming, karena tidaklah emas yang dicari tapi kekasihnya…

Tetapi sebaliknya hari ini ada orang yang ditunjuk orang-orang di sekitarnya sebagai wali Allah hanya karena dia dapat membawa emas berkarung-karung. Bahkan dapat mencetak emas itu dengan petikan jarinya. Dia sibuk dengan syariat manusia agar menahan diri dari mengambil keuntungan dari hikmah yang dia keluarkan.

Telah banyak para arifin yang mengingatkan akan keseimbangan syariat ini agar manusia tetap manusia, tidak berlebihan. Akan tetapi dalam samudera kewaliyan yang demikian harus menjadi kewaspadaan tersendiri…. Coba anda ukur dengan syariat yang manapun anda suka, seseorang membunuh anak kecil (tanpa alasan), melobangi kapal (tanpa alasan), membangun tembok (tanpa alasan).

Dimuliakanlah Allah karena hukum Nya kekal mengatasi segala syariat Nya sendiri.

Wallahul musta’an

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s