Menyikapi Info Anti Imunisasi

Sudah lama ingin menulis ini. Tapi karena energi yang dibutuhkan cukup banyak untuk mencari link-link yang sudah pernah dibaca, akhirnya baru kesampaian hari ini. Semoga apa yang saya tulis, bisa disikapi dengan baik dengan pikiran jernih. Syukur-syukur jika pembaca menyempatkan waktu lebih luang untuk membuka semua link-link yang ada karena semua saling terkait. Insya Allah cukup lengkap.

Menjelang usia kehamilan istri 6 bulan kemarin, kami mendapatkan info yang mengejutkan yaitu bahwa vaksin dan imunisasi itu haram, Imunisasi itu siasat yahudi untuk melumpuhkan generasi. Bahkan kami dipinjami tabloid yang mengupas itu, beberapa artikel tambahannya yaitu pendapat Jerry D. Gray (Sejak Lahir, Bayi dilemahkan dengan Vaksin) dan dr.Zaidul Akbar (Perlu Percepatan Syiar Thibbun Nabawi).

Informasi seperti ini membingungkan dan membuat resah. Karena begitu banyaknya teman-teman yang terpengaruh bahkan menganjurkan tidak imunisasi, ditambah sikap beberapa orang yang kami kenal yang mengambil sikap anak kedua dan berikutnya tidak diimunisasi. Jujur, info ini cukup mempengaruhi kami saat itu.  Sempat akhirnya kami memutuskan anak kami yang lahir nanti tidak akan divaksin. Apalagi beberapa media online (internet) yang didapat banyak juga yang mempertanyakan kredibilitas program pemerintah ini. Saya sebagai orang yang tidak paham dan ahli di bidang ini pun sempat ikut oleh arus deras informasi ini.

Walau kami sudah memutuskan untuk tidak melakukan imunisasi, masih saja ada yang mengganjal. Apalagi mendapat respon dari orang tua yang mempertanyakan sikap kami. Mau tidak mau harus memperdalam lagi, maunya sih mencari pembenaran akan sikap kami melet Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti Vaksinasi . Tapi yang terjadi justru sebaliknya. hmm Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti Vaksinasi

Beberapa buku kami beli dan terus mencari referensi lainnya di internet, terutama yang ilmiah. Sampai akhirnya menemukan beberapa situs yang logis menyanggah pendapat anti vaksin. Ditambah diskusi dengan pak Nanung Danardono (yang kebetulan 1 almamater di SMA 1 Jogja, beliau dosen Peternakan UGM dan LPOM MUI DIY yang sedang S3 di Inggris). Nah, dari diskusi dengan beliau ini, saya semakin tercerahkan dan akhirnya mantap 100% akan mengimunisasi anak saya nanti setelah lahir. Jazakallah pak Nanung. Kegalauan selama 2 bulan terjawab sudah. Di kehamilan istri yang sudah memasuki bulan ke-8 kami akhirnya berbalik mengambil sebuah keputusan. 100% mantap anak kami di-imunisasi. Bismillah.

Sangat disarankan bagi orangtua agar tetap well informed. Sebelum mengimunisasi anaknya, bertanya, membaca atau mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang kemungkinan efek samping dan reaksi yang ditimbulkan dari sebuah vaksin serta mengetahui tindakan pertama yang harus dilakukan ketika terjadi efek samping, sangatlah penting. Tapi seringnya, meskipun ada, efek samping vaksinasi hanyalah ringan, jika pun berat umumnya tidak berhubungan langsung dengan imunisasi. Kalaupun ada hubungan dan akibatnya cukup fatal, itu terjadi hanya 1: 100.000 orang yang telah mendapatkan manfaat imunisasi.

Sayangnya jika ada kejadian fatal, media kerap meniup-niupkan dan membuatnya bombastis serta emosional, sementara ketika kasus penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi mewabah dan menimbulkan kematian banyak orang, beritanya tidak dibesar-besarkan. Manfaat vaksin yang lebih besar ketimbang efek sampingnya juga sering tidak dimunculkan. Alhasil masyarakat semakin ketakutan.

Sebagai contoh, Ben Goldrace, seorang dokter dan penulis science, ( Saturday 3 October 2009, The Guardian) dalam sebuah artikelnya menceritakan bahwa 1592 artikel di google news memberitakan tentang seorang gadis yang meninggal tiba-tiba setelah mendapatkan vaksin pencegah kanker leher rahim. Namun, hanya 363 artikel yang memberitakan bahwa setelah di autopsi ternyata penyebab kematian si gadis adalah lantaran telah memiliki tumor parah di paru-parunya yang sebelumnya tak terdiagnosa. Ini menunjukkan bahwa ketidakseimbangan media dalam pemberitaan ternyata bisa turut andil dalam penyebaran rumor tak sedap tentang vaksin.

Dalam mempercayai sebuah berita, seperti kasus ini kita harus pilah-pilah mengenai referensi yang dipakai, masuk akal nggak apa yang jadi statemennya? Bagaimana pula orang-orang yang lebih ahli dari kita menyikapi ini? Dan sebagai orang Islam, ada nggak dalil qod’i yang melarang hal ini? Artikel berikut berbagi mengenai beberapa referensi yang saya anggap mencerahkan. Jika masih ada yang kurang lengkap, mari diskusi atau tanyakan pada yang ahli.

Istilah Imunisasi dan Vaksin

Walau sering diindetikkan sama, imunisasi dan vaksin adalah dua isitlah yang berbeda. Sebelumnya kita harus tahu istilah  imunisasi dan vaksin.

  • Imunisasi: pemindahan atau transfer antibodi [bahasa awam: daya tahan tubuh] secara pasif. Antibodi diperoleh dari komponen plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu.
  • Vaksinasi: pemberian vaksin [antigen dari virus/bakteri] yang dapat merangsang imunitas [antibodi] dari sistem imun di dalam tubuh. Semacam memberi “infeksi ringan”.

[Pedoman Imunisasi di Indonesia hal. 7, cetakan ketiga, 2008, penerbit Depkes]

Gembar-gembor yang Meresahkan

Tenyata, info seperti ini gencar dilakukan oleh teman-teman saya maupun istri. Bahkan sepupu saya yang sedang hamil (anak kedua di Jogja) galau juga ketika mendapatkan informasi seperti ini, apalagi dia mendapat gempuran informasi dan undangan seminar oleh temannya di sebuah rumah sakit terkenal di Jogja walau akhirnya tempatnya diubah. “Imunisasi lumpuhkan generasi” (Pro kontra program imunisasi di Indonesia). Beritanya bisa dilihat disini “Tentang seminar anti vaksin di Jogja (Tulisan yang sama di grup RFC)” .Klaim-klaimnya pada umumnya tidak main-main, diantaranya:

  1. Imunisasi siasat Yanudi lumpuhkan generasi
  2. Tegakah sebagai orang tua membiarkan racun ditelan atau merayap di seluruh pembuluh darah dan bersarang di organ tubuh anak kesayangannya?
  3. Vaksin MMR dapat memicu autis
  4. Begitu banyak zat berbahaya di vaksin, misalnya mercury
  5. Zat haram seperti enzim babi terkandung di vaksin, dll

 vaksin jadi kambing hitam bahaya vaksin itu bohong Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti Vaksinasi

Masih Ragu, Bagaimana Menyikapinya?

Ada teman yang masih bingung dan kemudian menggunakan dalil Hadits Arbai’in no 11 yaitu:

Dari Abu Muhammad, Al Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, cucu Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kesayangan beliau radhiallahu ‘anhuma telah berkata : “Aku telah menghafal (sabda) dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa yang tidak meragukan kamu “. (HR. Tirmidzi dan berkata Tirmidzi : Ini adalah Hadits Hasan Shahih) –[Tirmidzi no. 2520, dan An-Nasa-i no. 5711]

Kalimat “yang meragukan kamu” maksudnya tinggalkanlah sesuatu yang menjadikan kamu ragu-ragu dan bergantilah kepada hal yang tidak meragukan. Hadits ini kembali kepada pengertian Hadits keenam, yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya banyak perkara syubhat”.  Pada hadits lain disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Seseorang tidak akan mencapai derajat taqwa sebelum ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna karena khawatir berbuat sia-sia”.

Nah, akhirnya dia karena masih ragu (terutama karena halal-haramnya dan kandungan zat berbahaya seperti mercury), dia memutuskan anaknya tidak divaksin. Daripada resiko! begitu pikirnya. Padahal, jika mau berpikir jernih dan membandingkan dalil, logika dan argument pihak yang pro dan anti vaksin tampak begitu jelas mana yang benar dan salah. Justru dengan dia mengambil sikap seperti itu dia membahayakan anaknya dan juga anak-anak di sekitarnya. Keputusan kita bisa mematikan. Benjamin Franklin juga dulu takut mengimunisasi keluarganya untuk melawan penyakit smallpox. Namun kemudian dia menyesal ketika anak lelakinya meninggal di tahun 1736 akibat penyakit tersebut.

Untuk menyikapi hal yang dianggap masih meragukan, alangkah baik jika menggunakan dalil yang lain:

“Barangsiapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa jalan yang pertama kali harus ditempuh untuk mencapai jannah (surga) tidak lain adalah dengan cara menuntut ilmu. Barangsiapa menempuh jalan lainnya, atau menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan kenikmatan jannah meskipun tanpa menuntut ilmu, maka akan sia-sialah usahanya meskipun dengan susah-payah dia menjalaninya. Dan yang lebih penting, cari orang yang ahli mengenai masalah itu. Jangan hanya menunggu informasi itu datang. Bertanyalah, bertanya pada orang yang benar, jangan bertanya pada orang yang salah yang bukan ahlinya. Ketahuilah, bahwasanya disamping bersemangat, seseorang juga harus berhati-hati dalam menuntut ilmu. Karena ilmu itu tidaklah diambil kecuali dari ahlinya. Sehingga dikatakan oleh sebagian para ulama kita: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Selama ini, pihak antivaks di Indonesia menjadikan bukunya Ummu Salamah, Imunisasi Dampak dan Konspirasi sebagai rujukan. Padahal, kalau memperhatikan bukunya banyak yang sudah terbantahkan.

Sosok Ummu Salamah sendiri dan cara berdiskusinya bisa dilihat disini

logo pdf Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti VaksinasiSkrip Lengkap Ummu Salamah Al Hajjam Di Group ASI dan Imunisasi.http://www.scribd.com/doc/99380194/Skrip-Lengkap-Ummu-Salamah-Al-Hajjam-Di-Group-ASI-Dan-Umunisasi.

Cara diskusinya yang emosional dan tidak ilmiah sangat tidak patut jadi rujukan. Apalagi banyak klaim dia yang terbantahkan. Pengalaman saya, untuk membaca note ini perlu setidaknya 2 jam. Tak apalah, yang penting sediakan waktu untuk keputusan yang sangat berharga. Jika masih saja menjadikan sosok USA menjadi rujukan dan orang yang patut dipercayai, ya itu pilihan anda.  Masing-masing kita menanggung resiko dan pertanggungjawaban atas sikap dan kondisi anak kita kelak di hadapan Allah. Oke?

kisss Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti Vaksinasi

Siti Fadhilah Supari mantas Menteri Kesehatan yang namanya sering dikait-kaitkan dengan gerakan anti vaksin pun angkat bicara: “Buku saya tidak membicarakan soal imunisasi. Tetapi mengapa sampai berdasarkan buku saya, mereka tidak imunisasi,” katanya. Buku itu berjudul “Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan Dibalik Virus Flu Burung”. Terkait hal itu, dia mengatakan, para orang tua diharapkan mengimunisasikan anaknya. “Harapan saya bahwa imunisasi wajib yang empat macam itu harus bagi rakyat semua,” kata dia yang saat ini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bidang Kesejahteraan Rakyat. (sumber : Republika)

Benarkah Vaksin Haram?

Untuk kesehatan anak, kita sepakat berikan ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang , kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan. Untuk vaksinasi sendiri, banyak-banyak saja membaca, diskusi dan yakin atas keputusan diambil (apapun itu – tidak ada paksaan lho!). Yang penting mau menghargai yang beda pendapat. Pemerintah, MUI dan Ulama sendiri sampai saat ini tidak melarang vaksin.

Pada awalnya, kami juga dapet info seperti ini, bahkan kemudian membeli beberapa buku, majalah yang kontra vaksin. Banyak informasi yang mengejutkan yang selama ini belum tahu. akhirnya kami terus browsing, diskusi, cari artikel dan sampai pada sebuah kesimpulan yang 100% Insya Allah mantap menjalaninya.

Tentang VAKSIN, di DUNIA ini memang ada 2 kubu yg PRO dan KONTRA dgn vaksinasi. Masing-masing beranggapan benar. Saya justru sedih karena di antara kita ada banyak teman yg posting ikut menyalah-nyalahkan vaksinasi. Ternyata, MAAF…sumbernya dari teman yg jual obat HPA. Saya tidak mempermasalahkan HPA jual obat, itu bagus. Namun kalau sampai menyebarkan berita yang tidak tepat, maka akan muncul image bahwa orang Islam itu kalau jualan menghalalkan segala cara. Bahkan sampai menjelek-jelekkan pihak lain yang juga jualan produk lain. Akhirnya, image negatif akan mbalik ke Islam juga…

Temen-teman ini mengatakan bahwa :

  1. Setelah divaksin, banyak anak yang sakit. Vaksinasi membuat anak sehat jadi sakit. Benar gak ini? Logis gak ini? Kalau benar vaksinasi membuat anak jadi sakit, mestinya semua anak yang divaksin HARUS sakit semua. Kenyataannya bagaimana? Anak sakit setelah divaksin, maka perlu dilihat apakah tenaga medisnya prosedural apa tidak? Contohnya, saat divaksin, anak harus benar-benar dalam keadaan sehat. Jika kondisi daya tahan tubuhnya pas turun/tidak stabil, maka vaksinasi memang justru bisa membuat anak sakit.
  2. Anak yang divaksin lebih lemah daripada anak yang tidak divaksin. Benar gak ini? Variable yang diamati apa? Pembandingnya sama apa tidak? kita yang pernah belajar metodologi penelitian sangat paham bahwa jika 2 kelompok data tidak diperlakukan sama, maka itu tidak bisa dibandingkan. Contohnya, ketika orang membahas daging babi dan khamr, ada yang bilang kenapa orang-orang Eropa yang biasa makan babi dan minum khamr malah lebih sehat dan umurnya lebih panjang daripada orang Indonesia?  Ini menyalahi prosedur penelitian. Orang Eropa lebih sehat dan umur lebih panjang itu karena mereka biasa olah raga rutin, biasa bekerja keras, dan makan makanan yang bergizi. Tiap hari mereka minum susu dan makan keju. Lha, kalau orang Indonesia bagaimana…? Kalau mau membandingkan, mestinya kelompok orang Indonesia dan Eropa diperlakukan sama, lalu yg Eropa makan babi terus dan minum khamr terus, dan orang Indonesia tidak makan babi dan tidak minum khamr sama sekali. Nanti efek yang muncul adalah efek konsumsi babi dan khamr, bukan efek olah raga, kerja keras, minum susu, dll.

Fatwa Mengenai Vaksin

Bagi pihak yang mengharamkan vaksin, kita balik tantang, bisa nggak nunjukkan dalil pelarangannya? ulama siapa saja yang melarang dan mengharamkan vaksin? Ternyata, ulama-ulama besar justru membolehkan vaksin, atau minimal tidak sampai mengharamkan. Fatwa-fatwa Ulama, Keterangan Para Ustadz dan Ahli Medis di Indonesia Tentang Bolehnya Imunisasi-Vaksinasi

sujud syukur Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti VaksinasiYa Allah rahmatilah kami dengan al Qur’an. Jadikan ia imam kami, cahaya, petunjuk dan rahmat bagi kami. Ya Allah ingatkanlah kami apa yang kami lupa dan ajarkan bagi kami apa yang kami jahil. Karuniakanlah kepada kami untuk dapat membacanya sepanjang malamnya dan sepanjang siangnya. Jadikanlah ia perisai kami. Wahai Tuhan sekalian alam.

 

Ternyata di Zaman Rasulullah sudah ada Wabah

Di Gesamun ada file yang membahas tentang ini, Berikut salah satunya:

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata: Aku membaca hadits Malik dari Ibnu Syihab dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah bahwa “Pada suatu ketika ‘Umar bin Khaththab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, dia mendengar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Maka ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda: ‘Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya. ‘. Maka Umar pun kembali dari Saragh. Dan dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah; bahwa umar kembali bersama orang-orang setelah mendengar hadits ‘Abdurrahman bin Auf. [Shahih Muslim Kitab 40. Salam, Bab. 1092. Tha’un thiyarah dan Perdukunan] http://id.lidwa.com/app/?k=muslim&n=4115

Nah, pendapat pak Nanung Danar Dono seperti ini:  “saya bukan ahli hadits, namun saya punya pendapat begini”:

  1. Rasulullah SAW itu utusan Allah Swt. Beliau mendapat ilham, wahyu, dan ilmu langsung dari Allah. Beliau professor dalam segala bidang. Sejarah menunjukkan bhw Baginda Rasul itu adalah pimpinan negara terbaik yg pernah ada, pimpinan keluarga yg terbaik, ayah dan suami yang terbaik, mertua yg terbaik, kakek yg terbaik, dan GURU yg terbaik.
  2. Karena beliau seorang Rasul, maka beliau mengetahui bahwa penyakit yg disebabkan oleh pathogens itu bisa menular dan menjadi outbreak (wabah). Maka beliau melarang orang utk datang ke negeri Syam karena dikhawatirkan bisa tertular. Orang yang berada di negeri Syam dilarang keluar dari negeri tsb krn BISA MENULARKAN penyakit tersebut ke orang lain di luar negeri tsb.
  3. Larangan Baginda Nabi untuk ‘melarikan diri’ itu tujuannya adalah untuk antisipasi atau pencegahan penularan penyakit. Mungkin ini bisa dianalogkan dgn pencegahan ala vaksinasi, meski korelasinya tdk terlalu dekat.

Allaahu a’lam bish-showwab

Di jaman Nabi SAW pasti sudah pernah ada kasus wabah penyakit. Jika tidak, lalu mengapa tiba-tiba Baginda Nabi bersabda tentang larangan keluar dari sebuah daerah yang terkena penyakit. Menurut saya, kalimat yang ada pada hadits tersebut “daerah yang terkena/terserang penyakit” itu sudah suuuuangat jelas menunjukkan bahwa saat itu ada WABAH.

Memang tidak keluar dari daerah wabah itu jihad, karena ia bersungguh-sungguh berusaha agar TIDAK MENULARKAN penyakit tersebut ke orang lain di daerah lain.

Tentang tertular penyakit itu QODARULLAH itu benar, namun Allah Swt juga membuat aturan tentang teknis bagaimana virus dan bakteri menular. Jangan lupa, Allah juga membuat sistem yang namanya sunatullah…yaitu AIR itu memiliki sifat membasahi dan API itu memiliki sifat bisa MEMBAKAR. Maka, secara sunatullah, kalau kertas diletakkan di atas api, maka ia akan terbakar. Allah menentukan ia terbakar (qodarullah). Namun, kalau kertas itu diletakkan jauh dari api, apa ia juga akan terbakar? Sunatullah-nya, kertas tersebut tidak akan terbakar.

Begitu pula, Allah juga menetapkan sunatullah bhw virus-virus pathogens itu bisa MENULARKAN penyakit. Semua orang yg memiliki daya tahan tubuh lemah, maka ia mudah terserang penyakit tersebut. Maka, sunatullahnya, jika seseorang berada di tempat yg disitu sedang ada wabah penyakit, jika daya tahan tubuhnya bagus, maka (insya Allah) ia tidak akan tertular. Namun, jika daya tahan tubuhnya tidak bagus (insya Allah) ia akan lebih mudah tertular. Maka itulah sebabnya mengapa ada orang yang sakit dan ada yang suviveketika ada wabah.

Ijinkan saya (Nanung Danar Dono) membuat analog sederhana agar mudah dipahami.

Misalnya sebuah virus memiliki level virulensi (bisa menularkan penyakit) = 15

Maka, jika ASI memiliki level perlindungan = 10
Herbal menambah level perlindungan = 4
Vaksinasi menambah level perlindungan = 9,

Maka, anak yg mendapat ASI cukup dan minum herbal akan memiliki perlindungan = 10+4 = 14 level. Karena levelnya masih di bawah 15, maka kemungkinan tertular penyakitnya masih cukup besar.

Namun, jika si anak dpat ASI dan vaksinasi, maka level perlindungannya = 10+9=19. Karena levelnya di atas 15, maka ia LEBIH TERLINDUNGI.

Apalagi kalau kombinasi ASI, herbal, madu, vaksinasi, dll =10+4+9+…+…+…= >23, si anak ybs lebih terlindungi.

Namun, jika Allah berkehendak, si vaksin bermutasi, dan tingkat virulensinya meningkat jadi >25, ya sumonggo kersa Allah utk anugerahkan penyakit ini. Yg jelas, kita sudah berikhtiar semampu kita.

I wish, my simple explanation makes sense…
Allaahu a’lam bish-showwab

Pencegahan Penyakit di Masa Khilafah

Bagaimanapun mencegah penyakit lebih murah dari mengobati.  Gerakan “hidup sehat ala Nabi” menjadi trendy.  Rasulullah memang banyak memberi contoh kebiasaan sehari-hari untuk mencegah penyakit.  Misalnya: menjaga kebersihan; makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang; lebih banyak makan buah (saat itu buah paling tersedia di Madinah adalah rutab atau kurma segar); mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara; kebiasaan puasa Senin-Kamis; mengonsumsi madu, susu kambing atau habatus saudah, dan sebagainya.

Bagi yang terlanjur sakit dan mencari pengobatan yang lebih murah, juga tersedia “berobat cara Nabi” alias Thibbun Nabawi, yang obatnya didominasi madu, habatus saudah dan beberapa jenis herbal.  Kadang ditambah bekam dan ruqyah.  Pengobatan ini jauh lebih murah karena praktisinya cukup ikut kursus singkat, tidak harus kuliah di fakultas kedokteran bertahun-tahun.  Profesi thabib atau hijamah ini juga relatif belum diatur, belum ada kode etik dan asosiasi profesi yang mengawasinya, sehingga tidak perlu biaya tinggi khas kapitalisme.

Namun sebagian aktivis gerakan ini dalam perjalanannya terlalu bersemangat, sehingga lalu bertendensi menolak ilmu kedokteran modern, seakan “bukan cara Nabi”.  Realitas pelayanan kesehatan modern yang saat ini sangat kapitalistik menjadi alasan untuk menuduh seluruh ilmu kedokteran modern ini sudah terkontaminasi oleh pandangan hidup Barat, sehingga harus ditolak.

Salah satu contoh adalah gerakan menolak vaksinasi.  Sambil mengutip data dampak negatif vaksinasi dari media populer Barat (yang sebenarnya kontroversial), dengan amat semangat, gerakan ini menyatakan bahwa “di masa khilafah tanpa vaksinasi juga manusia tetap sehat” atau “sebelum ada vaksinasi, tidak ada penyakit-penyakit ganas seperti kanker”.

Tentu menjadi menarik untuk melihat seperti apa pencegahan penyakit di masa Khilafah itu?

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa vaksinasi memang sebuah teknologi dalam ilmu kedokteran yang baru ditemukan oleh Edward Jenner pada akhir abad-18 dan dipopulerkan awal abad-19.  Vaksin penemuan Jenner ini berhasil melenyapkan penyakit cacar (small pox) – bukan cacar air (varicella).  Pada abad-19, penyakit cacar ini membunuh jutaan manusia setiap tahun, termasuk rakyat Daulah Khilafah!  Namun saat itu Daulah Khilafah sudah dalam masa kemundurannya.  Andaikata Daulah Khilafah masih jaya, barangkali teknik vaksinasi justru ditemukan oleh kaum Muslimin.

Dalilnya adalah Rasulullah menunjukkan persetujuannya pada beberapa teknik pengobatan yang dikenal semasa hidupnya, seperti bekam atau meminumkan air kencing onta pada sekelompok orang Badui yang menderita demam.  Lalu ada hadits di mana Rasulullah bersabda, “Antum a’lamu umuri dunyakum” – Kalian lebih tahu urusan dunia kalian. Hadits ini sekalipun munculnya terkait dengan teknik pertanian, namun dipahami oleh generasi Muslim terdahulu juga berlaku untuk teknik pengobatan.  Itulah mengapa beberapa abad kaum Muslim memimpin dunia di bidang kedokteran, baik secara kuratif maupun preventif, baik di teknologinya maupun manajemennya.

 cari kebenaran dan teruslah belajar Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti Vaksinasi

“Barangsiapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)

Link-link yang bermanfaat Mengenai Vaksin. Wajib DIBACA ya…!!! peace Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti Vaksinasi

Ada banyak informasi di internet yang bisa dicari. Beberapa tulisan di bawah ini saya anggap cukup representatif  dan menjawab keraguan kita tentang klaim anti vaksin.  Di Indonesia, hampir semua lembaga / ormas Islam tidak mempermasalahkan vaksin. Informasi yang salah mengenai vaksin beredar melalui personal, dalam forum pengajian (halaqoh) dan berbagai interaksi bisnis atau sosial lainnya. Sikap antivaksin bukan mainstream dari gerakan Islam, baik PKS, HTI, Salafy, NU, Muhammadiyah, dll., walaupun memang sampai saat ini belum ada sikap resmi secara lembaga.

  • Benarkah Imunisasi Lumpuhkan Generasi? Dakwatuna yang identik dengan situs PKS juga bersikap dengan meng-upload tuisan dari Dr. Piprim B Yanuarso Sp. A(K) yang galau ketika sering mendengar atau melihat info seminar dengan judul yang membuat mata seorang dokter terbelalak. “Imunisasi lumpuhkan generasi” atau “Wahai para orangtua bekali dirimu dengan pengetahuan tentang bahaya imunisasi”.http://www.dakwatuna.com/2012/06/20922/benarkah-imunisasi-lumpuhkan-generasi/
  • Pencegahan Penyakit di Masa Khilafah.  Situs HTI ini kalimat kuncinya adalah: “Andaikata Daulah Khilafah masih jaya, barangkali teknik vaksinasi justru ditemukan oleh kaum Muslimin”. Penulis menganggap gerakan menolak vaksinasi telah mengutip data dampak negatif vaksinasi dari media populer Barat (yang sebenarnya kontroversial). Dengan amat semangat, gerakan ini menyatakan bahwa “di masa khilafah tanpa vaksinasi juga manusia tetap sehat” atau “sebelum ada vaksinasi, tidak ada penyakit-penyakit ganas seperti kanker”.. http://hizbut-tahrir.or.id/2011/10/19/pencegahan-penyakit-di-masa-khilafah/
  • Tanya Jawab Kehalalan Dan Keamanan Vaksin. Tulisan dari antara ini merupakan tulisan hasil wawancara dengan Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia 2002-2008. Tulisan ini sudah dilihat oleh lebih dari 28.000 pembaca. Silahkan dibaca juga komentarnya dari pihak yang pro maupun yang kontra. http://www.antaranews.com/berita/292632/tanya-jawab-kehalalan-dan-keamanan-vaksin
  • Bahaya Menolak Imunisasi. Akhir sebuah keputusan tentu saja berpulang pada masing-masing orang. Benar, bahwa setiap manusia punya hak atas sebuah pilihan, yang harus dihargai dan tentu tidak bisa diabaikan. Namun tolong, sebelum memutuskan, pikirkan dengan matang, cek dan ricek informasi yang datang. Gunakan hati, pikiran dan akal untuk mencari yang benar, bukan sekedar ikut-ikutan atau karena pengaruh peer pressured, tekanan dari kawan dan handai taulan. Tolong digarisbawahi benar bahwa keputusan yang diambil kemudian, bukan hanya berpengaruh pada anak kita seorang, tapi juga beresiko menolong atau membahayakan anak-anak di sekitar. Ingat, keputusan kita bisa mematikan. Tegakah hati melihat anak-anak jiwanya terancam hanya karena kita gegabah dalam mengambil keputusan?File pdf bisa didownload disinihttp://zainfadhil.files.wordpress.com/2012/08/bahayanya-menolak-imunisasi.pdf
  • Buku Imunisasi, Dampak dan Konspirasi karya Ummu Salamah. Buku ini beberapa kali direkomendasikan temen untuk dibaca. Isinya mempertanyakan imunisasi yang dianggap menjerumuskan. Namun apakah benar demikian????? Di banyak diskusi di FB atau situs lain, penulis selalu mempromosikan buku ini, termasuk ketika ditanya dan terpojok dalam menjawab justru kita disuruh membeli. JANGAN DIBELI! Nanti menyesal lho! icon biggrin Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti Vaksinasi Baca dulu uraian ini sehingga kita mantap mengambil sikap.  Telaah buku ini merupakan bahan untuk Seminar tentang “Vaksinasi dan Problematika di Bidang Kesehatan. Seminar ini diadakan di Auditorium UIN Jakarta pada tanggal 14 Maret 2009. Hasil lengkap atas telaah buku Imunisasi, dampak dan konsporasi, dapat dibaca pada uraian berikut: http://zainurihanif.com/2012/07/25/telaah-buku-imunisasi-dampak-dan-konspirasi-karya-ummu-salamah/
  • Fakta di Balik Kampanye Hitam Anti Vaksin. Menjelaskan mengenai ilmuwan fiktif yang jadi rujukan antivaksin. Penulis mengajak kita mencari referensi yang sahih, tidak bias atau tendens, valid dan reliable.  Pertanyaannya kemudian mudah, referensi sebenarnya gampang di cari, kalau memang ada bukti mari berdebat secara ilmiah, jangan langsung percaya sama artikel yang darimana entah kemana tujuannya. Artikel ini dimuat oleh detik health. Tapi disini saya anjurkan langsung aja ke sumbernya di Kompasiana : “Bahaya Imunisasi!”, Telaah Tahap I dan artikel lanjutannya “Bahaya Imunisasi!”, Telaah Tahap II

fb logo Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti VaksinasiDan jangan lupa ikut di FB Groups GESAMUN. Gerakan Sadar Imunisasi.https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/ dengan File yang terdokumentasi disini https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/files/. Ini adalah groups yang sangat komplit membahas tentang Imunisasi. Gabung aja, dapet ilmu dan silaturrahim dengan orang-orang yang baik, bertanggungjawab dan Insya Allah bisa memberi solusi. Groups ini sangat direkomendasikan!!! *****

diambil dari http://zainurihanif.com/2012/08/04/pengalamanku-dalam-menyikapi-info-anti-imunisasi/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s